10 Rekomendasi Saham Terbaik Untuk Investasi Jangka Panjang

Beritaduit.com – Jenis Saham yang baik untuk dijadikan sebagai intrumen investasi jangka panjang adalah saham yang memiliki kriteria fundamental yang baik dan kapitalisasi pasar yang besar.

Jika Anda berencana untuk berinvestasi dalam jangka panjang, memegang saham emiten untuk waktu yang lama, pastikan perusahaan yang Anda pilih tidak spekulatif dengan kinerja keuangan yang buruk.

Saham-saham dengan fundamental yang baik mencakup berbagai sektor, mulai dari barang konsumsi, pertambangan hingga perbankan.

Berbagai perusahaan raksasa tersebut masih berada di zona merah namun memiliki potensi untuk tumbuh dalam jangka panjang.

Selain itu, dilihat dari sisi fundamental, saham-saham ini jelas solid, terutama saham komoditas. Tak hanya batu bara, harga nikel, timah, dan SRO kini meroket sehingga berpeluang memprovokasi kenaikan nilai saham emiten tersebut.

Dalam jangka panjang, investor dapat memanfaatkan pelemahan harga saham perusahaan besar sebagai dorongan untuk mulai membeli. P

adahal, harga saham-saham tersebut sebenarnya cukup rendah jika diukur dengan rasio price-to-earning (PE) atau price-to-book value (PBV) yang di bawah rata-rata.

Meski dari sisi teknikal, sejumlah saham masih menunjukkan tren turun dan belum ada tanda-tanda rebound.

Rekomendasi Saham Untuk Investasi Jangka Panjang Terbaik

Berikut daftar rekomendasi saham jangka panjang yang layak menjadi perhatian investor.

1. UNVR

UNVR cocok untuk holding dalam jangka panjang karena merupakan pangsa terbesar sektor consumer goods di Indonesia dengan fundamental yang tidak ada duanya.

Meski telah terjadi penurunan harga saham yang cukup signifikan akibat pandemi Covid-19, namun prospek untuk puluhan tahun ke depan masih tetap bagus karena sudah memiliki 400 merek yang dikenal masyarakat.

Kinerja PT Unilever Indonesia pada paruh ketiga tahun 2021 masih lesu. Penjualan bersih turun sekitar 7,5% tahun-ke-tahun menjadi Rs 30 triliun, meskipun mereka mencapai rekor Rs 32 triliun pada tahun 2020 pada periode yang sama.

Penjualan UNVR yang lemah juga membebani laba perusahaan. Dari Januari hingga September 2021, laba bersih turun 19% dari tahun ke tahun menjadi Rs. 4 triliun Maka tidak heran jika saham UNVR mengalami downtrend yang kuat sepanjang tahun 2021.

Di satu sisi, ini mungkin merupakan sinyal buruk bagi para trader, namun jika investor dapat memanfaatkan peluang ini, maka penurunan harga saham UNVR akan menjadi peluang yang baik untuk keuntungan di masa depan.

Mengingat Unilever telah beroperasi di negara ini selama hampir satu abad dan telah berhasil bertahan dari berbagai krisis, mulai dari Depresi Hebat, krisis mata uang 1997-1998, dan diakhiri dengan Resesi Hebat 2008.

2. ADRO

ADRO merupakan perusahaan pertambangan yang sahamnya direkomendasikan untuk jangka panjang karena terus menjadi emiten terkemuka di sektor pertambangan.

Prospeknya dinilai baik karena perusahaan memiliki kemitraan yang kuat dengan importir asing.

Apalagi, mengingat tingginya permintaan nikel dari luar negeri, Adaro memiliki prospek yang baik untuk meningkatkan pendapatan dalam jangka panjang.

PT Adaro Energy mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada enam bulan pertama tahun 2021. Berdasarkan laporan keuangan, laba bersih perseroan tercatat sebesar $525,67 juta, naik 160% dari kuartal III 2020.

Berkat keuangan yang bagus, sejumlah analis merekomendasikan saham ADRO dengan prospek optimis.

3. INDF

Harga saham Indoffod terus berfluktuasi sepanjang tahun 2021. Namun, tampaknya masih banyak investor yang percaya dengan perusahaan milik Grup Salim ini.

Pasalnya, merek Indofood merupakan salah satu merek paling kuat di tanah air, sehingga sulit kehilangan pangsa pasar. Padahal, perusahaan asli Indonesia ini sudah terkenal di kancah internasional.

Antara Januari dan September 2021, INDF berhasil mencatat peningkatan laba bersih 60% dari tahun ke tahun menjadi Rs 8 triliun. Sementara itu, pendapatan INDF juga meningkat dari RP 58 triliun pada September 2020 menjadi Rs 72 triliun pada September 2021.

Angka INDF diperkirakan meningkat tahun ini. Sentimen positif tersebut mendorong penjualan mi instan dan agribisnis.

4. TINS

Melihat kesehatan keuangan perusahaan, tahun 2021 merupakan tahun pemulihan bagi perusahaan timah. Sepanjang Januari-September 2021, perseroan berhasil membukukan laba hingga Rp 649 miliar.

Jumlah ini jauh lebih tinggi daripada di bulan yang sama tahun 2020, ketika perusahaan merugi hingga Rp 350 miliar.

Menurut berita dari Kontan, tren ini kemungkinan akan berlanjut, dengan beberapa ahli memperkirakan krisis energi yang melanda China dan India akan mereda pada pertengahan 2022.

Namun sayangnya, tampaknya kepercayaan investor terhadap perusahaan tambang ini tidak sesuai dengan laporan keuangan perusahaan.

Setelah melonjak tajam dalam dua bulan pertama, saham TINSS terus merosot, hingga akhirnya pada 30 Desember, saham perusahaan timah ini ditutup di level 1470 per saham.

5. PTBA

PT Bukit Asam Tbk mencatatkan hasil gemilang pada Januari-September 2021. Perusahaan tambang batu bara milik negara itu membukukan laba bersih Rp 1,77 triliun, naik 38,04% dari laba bersih hanya Rp Rp pada periode yang sama tahun lalu. 4,25 triliun

Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari kuartal ketiga 2020. Saat itu, perusahaan melaporkan laba hanya $1,9 triliun. Seiring dengan peningkatan pendapatan tersebut, harga saham PTBA juga perlahan naik setelah sebelumnya sempat anjlok selama Januari-September 2021.

Dengan rasio P/E yang hanya berkisar 5-6%, PTBA merupakan salah satu saham dengan prospek bagus di tahun 2022.

6. ANTM

PT Aneka Tambang mencatatkan pertumbuhan produktivitas dalam sembilan bulan tahun 2021. Emiten bernama Antam membukukan laba bersih Rp 26,4 triliun, naik 46,8% dari periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 18 triliun.

Peningkatan pendapatan juga mendongkrak bottom line ANTM. Korporasi berhasil membukukan laba bersih Rp 1,7 triliun.

Nilai tersebut lebih tinggi 100% dibandingkan kuartal III 2020. Seperti halnya PTBA, tren harga saham Antam diperkirakan akan berlanjut pada 2022 karena kondisi pasar komoditas internasional.

7. AGII

Pada tahun 2021, penjualan dan keuntungan AGII memang meningkat karena permintaan yang kuat untuk oksigen medis untuk rumah sakit.

Bahkan pada September 2021, perusahaan berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga 31% dan laba hingga 484% year-on-year.

Namun demikian, manajemen AGII tetap yakin bahwa kinerja AGII di tahun 2002 akan terus kuat2.

Hal ini sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian nasional, sehingga permintaan gas di sektor lain akan terus kembali ke level sebelum pandemi.

8. BBNI

Sektor perbankan merupakan salah satu industri yang diperkirakan akan membaik seiring dengan membaiknya perekonomian nasional pascapandemi.

Secara keseluruhan, kinerja keuangan saham-saham perbankan tersebut membaik dari Januari hingga September 2021.

Hal ini tercermin dari laporan laba rugi bersih perseroan. BNI berhasil membukukan laba Rp 5 triliun pada 2020. Bahkan pada tahun 2021, laba BNI meningkat menjadi Rp 9,5 triliun.

Dengan tren digital banking dan investasi yang terus berkembang, BBNI memiliki prospek jangka panjang yang baik karena selain berstatus blue chip, Bank Negara Indonesia mengeluarkan produk melalui BNI Mobile Banking dan BNI Sekuritas.

Bersama dengan saham-saham unggulan lainnya, BBNI merupakan investasi jangka panjang yang sehat.

9. BBTN

Bank lain yang diharapkan membaik seiring dengan menghilangnya pandemi di Indonesia adalah Bank BTN. Laporan keuangan kuartal III Bank BTN menyebutkan, sepanjang Januari-September 2021, bank BTN berhasil membukukan laba 1,5 triliun, naik sekitar 35% dibandingkan tahun 2020.

Diharapkan dengan membaiknya perekonomian Indonesia, semakin banyak masyarakat yang mau meminjam uang ke bank, dan bank juga dapat membayar kembali pinjaman yang terpaksa dihentikan sementara selama pandemi.

10. ICBP

ICBP merupakan salah satu perusahaan FMCG yang berkinerja baik selama masa pandemi. Pada kuartal III 2020, perseroan berhasil mencatatkan pendapatan hingga 4,5 triliun. Di tengah penurunan jumlah korban pandemi, dinamika laba perseroan menjadi lebih baik: untuk periode Januari hingga September 2021, laba bersih sekitar 6,2 triliun. Tentu saja, daya beli masyarakat membaik sejak Covid. Pandemi -19 usai, diharapkan pendapatan perusahaan ini juga meningkat.

Alasan mengapa saham ICBP direkomendasikan untuk jangka panjang adalah karena, seperti perusahaan induknya, INDF adalah merek yang sangat kuat di Indonesia dengan pangsa pasar yang dominan. Karena itu, dalam beberapa dekade mendatang, sulit membayangkan emiten lain mampu mengejar dominasinya.

Penutup

Nah itulah 10 rekomendasi saham terbaik yang bisa dijadikan acuan atau pilihan untuk Anda yang ingin berinvestasi jagka panjang.